Rabu, 30 Oktober 2019

15 KALAM INDAH IMAM SYAFI'I



(Oleh: Rusman Siregar)

Imam Syafi'i bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi'i Al-Muththalibi Al-Qurasyi. Beliau lahir di Gaza Palestina, 150 Hijriyah (767 M) dan wafat di Fusthat Mesir tahun 204 Hijriyah (819 M).

Imam Syafi'i adalah seorang mufti besar pendiri mazhab Syafi'i yang tergolong kerabat dari Rasulullah SAW, yaitu keturunan dari Al-Muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Nabi Muhammad SAW.

Kelahiran beliau pada 150 Hijriyah bertepatan dengan wafatnya dua ulama besar Imam Abu Hanifah Nu'man bin Tsabit, pendiri Mazhab Hanafi yang wafat di Irak, dan Imam Ibn Jureij Al-Makky, seorang mufti Hijaz yang wafat di Makkah. 

Keluasan ilmu Imam Syafi'i terlihat dari penguasaan ilmu agamanya. Sejak usia 7 tahun, beliau telah hafal Alqur'an. Kemudian usia 12 tahun hafal kitab Al-Muwaththa' karya Imam Malik sebelum beliau berjumpa langsung dengan Imam Malik di Madinah.

Berikut 15 kalam indah Imam Syafi'i yang penuh hikmah: 

1. 
Dosa-dosaku amat banyak. Namun ketika aku bandingkan dengan rahmat-Mu, Ya Rabb, ampunan-Mu jauh lebih besar. 

2. 
Janganlah mencintai seseorang yang tidak mencintai Allah. Jika Allah saja mereka tinggalkan, mereka pun juga akan meninggalkanmu. 

3. 
Jika dirimu tidak kamu sibukkan dengan kebaikan, maka ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan.

4. 
Andai saja kamu tahu bagaimana Allah menangani urusan-urusanmu, hatimu pasti akan luluh karena begitu mencintai-Nya. 

5. 
Ada tiga hal yang sangat berharga: [1] Bersedekah di kala miskin [2] Menjauhi maksiat di kala sendiri, dan [3] Menyampaikan kebenaran di hadapan orang yang ditakuti atau berkuasa. 

6. 
Orang bijak adalah orang yang pikirannya bisa mengendalikan dirinya dari segala aib yang tercela. 

7. 
Doa yang dipanjatkan di waktu Tahajjud itu ibarat anak panah yang tepat mengenai sasaran.

8. 
Dunia ini hanya sesaat, maka isilah setiap momen hidup itu dengan ketaatan. 

9. 
Belajarlah sebelum kamu menjadi pemimpin, sebab ketika kamu telah memimpin, tidak ada lagi waktu untuk belajar. 

10. 
Sungguh aneh, kamu mengharap keselamatan, tapi kamu tidak menempuh jalannya. Tentu saja kapal itu tidak berlayar di daratan. 

11. 
Jika seseorang itu bijak, perhatiannya atas dosanya sendiri akan mengalihkan perhatiannya dari menilai kesalahan orang lain. 

12. 
Kesehatan adalah mahkota yang bertengger di atas kepala orang sehat, tapi hanya orang yang sakit yang bisa melihatnya. 

13. 
Semua manusia itu mati, kecuali yang berilmu. Semua yang berilmu terlelap, kecuali yang beramal. Semua yang beramal tertipu, kecuali yang ikhlas. Dan orang yang ikhlas selalu dalam keadaan khawatir. 

14. 
Waktu bagaikan pedang, jika kamu tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu. 

15. 
Tidakkah kamu perhatikan bahwa seekor singa ditakuti lantaran ia pendiam, sedangkan seekor anjing dijadikan permainan karena ia suka menggonggong.
💌

https://kalam.sindonews.com/read/1449351/70/15-kalam-indah-imam-syafii-1571231274

Jumat, 25 Oktober 2019

Cara Menjadi Wali Murid yang Baik Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani




Menjadi wali murid atau wali santri yang baik butuh kunci sukses tersendiri. Wali murid yang baik menjadi pintu utama lahirnya sosok murid/santri yang mudah menerima ilmu dari gurunya. Jangan sampai jadi wali murid yang malah menggangu atau menggagalkan proses belajar anaknya.

Di sini, kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani bisa menjadi pelajaran buat semuanya, khususnya yang sedang mempunyai anak sedang ngaji.

Saat itu, ada seorang yang busuk hatinya ingin menfitnah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Orang itu lalu mencari jalan untuk menfitnahnya. Maka ia membuat lubang di dinding rumah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dan mengintipnya.

Kebetulan, ketika ia mengintip Syekh Abdul Qadir, ia melihat Syekh Abdul Qadir sedang makan dengan muridnya. Syekh Abdul Qadir suka makan ayam dan setiap kali ia makan ayam dan makanan yang lain, ia akan makan separuh saja. Sisa makanan tersebut kemudian diberikan kepada muridnya.

Maka, orang tadi pergi kepada bapak murid Syekh Abdul Qadir tadi.

“Apa bapak punya anak yang ngaji kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani?”

“Ya, ada,” jawab bapak itu.

“Apa bapak tahu kalau anak bapak itu diperlakukan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani selayaknya seorang hamba dan kucing saja? Syekh Abdul Qadir itu memberi sisa makanannya pada anak bapak.”

Mendengar cerita itu, si bapak itu hatinya panas dan segera pergi ke rumah Syekh Abdul Qadir.

“Wahai tuan Syekh, saya mengantarkan anak saya kepada tuan Syekh bukan untuk jadi pembantu atau diperlakukan seperti kucing. Saya antarkan anak saya kepada tuan Syekh, supaya anak saya jadi orang alim.”

Mendengar perkataan si bapak ini, Syekh Abdul Qadir hanya menjawab secara ringkas saja.

“Kalau begitu, ambillah anakmu!”

Si bapak itu kemudian mengambil anaknya untuk diajak pulang. Ketika keluar dari rumah tuan Syekh menuju jalan pulang, bapak tadi bertanya pada anaknya beberapa hal mengenai ilmu hukum dan ilmu hikmah.  Ternyata semua persoalan itu dijawab dengan sangat lengkap. Maka, si bapak itu akhirnya berubah fikiran untuk mengembalikan anaknya kepada tuan Syekh Abdul Qadir.

“Wahai tuan Syekh, terimalah anak saya untuk belajar kembali dengan tuan Syekh.  Didiklah anak saya, tuan Syekh. Ternyata anak saya bukan seorang pembantu dan juga tidak diperlakukan seperti kucing. Saya melihat ilmu anak saya sangat luar biasa karena belajar denganmu.”

Mendengar pernyataan itu, maka Syekh Abdul Qadir kemudian menjawab.

“Bukan aku tidak mau menerimanya kembali. Tapi Allah sudah menutup pintu hatinya untuk menerima ilmu. Allah sudah menutup futuhnya (terbukanya) untuk mendapat ilmu. Ini disebabkan seorang ayah yang tidak beradab kepada guru.”

Inilah kisah sangat inspiratif kepada kita semua, khususnya para wali murid/santri. Kepada para guru/kyai, bukan saja santri yang wajib hormat, wali murid juga punya kewajiban yang sama. Santri dan wali santrinya itu sejatinya juga sama-sama murid dari sang guru. (Abu Umar/Bangkitmedia.com) 

https://bangkitmedia.com/cara-menjadi-wali-murid-yang-baik-menurut-syekh-abdul-qadir-al-jailani/

Minggu, 20 Oktober 2019

HIBAH EBOOK BUKU AGAMA ISLAM GRATIS

DAFTAR BUKU


1. Harry Yuniardi, Argumentasi Tarawih 20 Rakaat; Risalah Amaliah Kaum Nahdliyyin (Bandung; LTN NU Jawa Barat, 2017) Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B6GRfv4J--Yuc1J6R1ZtNnRmZEE/view

2. Ustadz M. Idrus Ramli, Buku Pintar Berdebat dengan Wahhabi, (Jember; Bina ASWAJA, 2010) Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B6GRfv4J--YuZ2M4QW1pMHdvWWc/view

3. Ustadz Ma'ruf Khozin, Mana Dalil Malam Nishfu Sya'ban?, (Jember, LTN Jawa Timur, 2017) Link Download: https://drive.google.com/open?id=0B6GRfv4J--YuZ3RPVlB1WGlrVHc

4. Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari, Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah, _Terj._ Ngabdurrohman al-Jawi (Jakarta: LTM-PBNU, 2011) Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B6GRfv4J--YuSVpIMDQ4a01ubXM/view

5. A. Gaffar Karim, Metamorfosis NU dan Politisasi Islam di Indonesia, (Yogyakarta; LKiS Yogyakarta, 1995) Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCWFo0ZE5VWVVqUjA/view

6. Martin van Bruinessen, NU Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa Pencarian Wacana Baru, (Yogyakarta; LKiS Yogyakarta, 1994) Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCc18zcmdva3h1d0U/view

7. M. Ali Haidar, Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia, (Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama, 1993) Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCWFo0ZE5VWVVqUjA/view

8. KH. Abdul Muchith Muzadi, Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari di Mata Santri, (Jombang; Pustaka Tebu Ireng, 2010) Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCdzhlemhETldOeDQ/view

9. Syaikh Thahir bin Shalih al-Jaza'iri, Terjemah Jawahirul Kalamiyyah. Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B6GRfv4J--YuZE1iS2RrYWhrdGc/view

10. A. Shihabuddin, Telaah Kritis atas Doktrin Faham Salafi Wahabi, Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B6GRfv4J--YuOHh6X19SclFaUlE/view

11. Habib Ali bin Muhammad al-Habsy, Maulid Simthud Duror, Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCS05EdG1fTjJyZGM/view

12. Imam Ja'far Ibn Hasan al-Barzanji, Maulid Barzanji Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCMUFoLV94NmhVLTQ/view

20. Imam Abdurrahman al-dibaa'i, Maulid Ad-Dibaa'i, Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCVktCNEJTbWVNek0/view

Semoga bermanfaat, menebar manfaat mendobrak keterbatasan literasi

#alanumedia

Silahkan di sebarkan agar mendapatkan amal jariyah 🤲😊


https://bangkitmedia.com/nasihat-gus-miek-kapan-pun-kita-ditawari-nikah-kita-harus-siap/

*Nasihat Gus Miek: Kapan Pun Kita Ditawari Nikah, Kita Harus Siap!*

“Awake dhewe kapan ditawari rabi, bismillah siap, siap sanggup mampu meletakkan mental di atas masail musykilat problemat (Kapan pun kita ditawari nikah, kita harus siap; siap untuk meeletakkan mental diatas berbagai macam masalah, keruwetan-keruwetan, dan aneka problema),” nasihat Gus Miek di Putat Gresik.

Menurut Gus Miek, syarat menikah yang paling utama adalah kesiapan mental dan menata niat, nawaitu bismillah. Menikah tidaklah tergantung akan kemampuan finansial misalnya, atau umur dan syarat-syarat lain yang menyebabkan seseorang menjadi terbebani untuk melangkah menuju pelaminan. Dengan mental yang kuat, insya Allah, orang yang memasuki jenjang pernikahan akan mampu mengatasi masalah yang menghadang. Alangkah banyak orang yang secara inderawi kemampuan untuk menikah, namun kenyataannya mereka tidak berani melangkah ke jenjang pernikahan.

Orang yang memiliki kesiapan mental akan lebih berhasil membawa biduk rumah tangganya untuk menggapai ridho Allah. Dan tidaklah mental itu dapat diperoleh kecuali karena adanya “hubungan khusus” dengan Sang Pencipta, yakni tawakal. Sebab, tawakal adalah senjata yang tidak dimiliki kecuali oleh orang-orang yang mengerti akan dirinya, mengerti akan kehambaannya, mengerti akan kelemahannya.

Saya teringat peryataan Gus Dur dalam sebuah majalah yang saya lupa namanya, yang terbit tahun 1980-1990. Gus Dur mengatakan, “Masalah itu ada dua macam. Pertama, masalah yang bisa dipecahkan; dan kedua, masalah yang akan selesai dengan sendirinya.” Selesai sendirinya; waktulah yang akan menyelesaikannya.

Penulis juga teringat dengan peryataan seseorang filosof yang mengatakan bahwa ketika kita menghadapi problem, dimana kita harus mengambil sebuah keputusan melangkah atau tidak, apapun yang kita pilih melangkah atau tidak melangkah sebenarnya kita telah memutuskan suatu hal. Dalam arti, melangkah atau tidak, sebenarnya kita telah “malangkah” dalam sebuah keputusan.

Dalam mengambil i’tibar nasihat Gus Miek di atas, yang perlu kita perhatikan adalah pertahanan mental yang harus lebih kuat dibandingkan dengan masalah yang datang. Kalau bisa diibaratkan dengan bahasa lain, ‘tuan rumah lebih kuat dibandingkan dengan tamu’. Tuan rumah adalah pribadi atau batin kita (mental), sedangkan tamu adalah berbagai macam masalah.

Jika tuan rumah ibarat hati maka tamunya adalah ahwa’, bisikan-bisikan setan dan unsur lainnya yang bersifat negatif. Jika tuan rumah lebih kuat maka tamu yang tidak baik itu tidak akan mampu memasuki wilayah tuan rumah. Sebaliknya, jika tuan rumah lemah, tamu yang jahat akan leluasa menguasai, bahkan mengendalikan tuan rumah. Jika mental kita baik, apa pun masalah yang kita hadapi, kita akan mampu bertahan dan pada akhirnya mengatasinya; demikian pula sebaliknya.

Oleh sebab itu, Gus Miek tidak putus-putusnya menasihati, “Dalam menghadapi cobaan-cobaan yang datang, hendaklah kita mengandalkan doa yang merupakan senjata kita dan senjata orang-orang saleh yang telah lulus diuji. Sebab, harus diakui bahwa kita mempunyai keterbatasan yang mencolok, antara lain keterbatasan dana, keterbatasan berpikir, keterbatasan melakukan pembenahan dan penyelesaiannya. Di sinilah perlunya kita punya kepasrahan total kepada Allah.”

Salah satu suplemen untuk menguatkan mental kita, seperti yang sering disinggung oleh Gus Miek adalah dengan Sema’an Al-Qur’an dan Dzikrul Ghafilin.

Oleh: M. Alwi Fuadi

Catatan; Tulisan ini disarikan (hadi/bangkitmedia.com) dari buku, “Nasihat Gus Miek: Membangun Keluarga Sakinah”.

Tahukah Anda? Semua Ulama Madzab Mempelajari & mengamalkan Tasawuf


Seringkali kita mendengar ceramah atau tulisan yang tersebar di buku atau internet, bahwa ilmu tasawuf itu tidak ada dalam Islam. Sesuatu yang tidak ada dalam Islam artinya bid'ah, karena termasuk sesuatu yang diada-adakan. Dan pelaku bid'ah akan masuk neraka. Maka tasawuf itu adalah sesat dan menyesatkan.

Saya pun sering bertanya-tanya, benarkah klaim sesat itu ? Dari sedikit banyak membaca dan bergabung dengan pengajian tasawuf, ternyata klaim-klaim seperti itu tidak berdasar. Tidak ada yang baru sebenarnya dalam prinsip-prinsip yang dipelajari dalam tasawuf. Karena sesungguhnya, di zaman nabi pun tasawuf, fiqih, tauhid diajarkan dan dipraktekkan secara serempak.

Klasifikasi ilmu-ilmu Islam tersebut barulah ada setelah jauh nabi Muhammad wafat.

Tasawuf lebih menfokuskan praktek Islam secara batiniah yaitu bagaimana mendekatkan diri kepada Allah secara ikhlas tanpa pretensi apapun kecuali kecintaan kepada sang Pencipta.

Dan juga bagaimana kita bisa bebas/merdeka dari penyakit-penyakit hati seperti sombong, iri, dengki, kikir, dan ghibah.

Karena semua penyakit itu akan berpotensi menjadi penghalang atau hijab antara manusia dengan Allah Swt.

Sedangkan ilmu Fiqih menfokuskan diri bagaimana Islam diterapkan secara lahiriah. Bisa dikatakan semacam juklak atau petunjuk pelaksanaan bagaimana umat Islam menjalankan sholat, puasa, zakat, haji, mengubur jenasah, menikah, menghitung waris dan lain-lain.

Jadi Fiqih dan tasawuf pada hakekatnya adalah ilmu lahir dan ilmu batin. Keduanya saling melengkapi, dan tidak bisa dipisahkan. Makanya tidak heran jika para ulama madzab pun semuanya bertarekat dan mempunyai  guru tasawuf  ( murshid ) yang jelas silsilahnya.

IMAM ABU HANIFAH ( HANAFI ) (85 H -150 H) (Nu’man bin Tsabit - Ulama besar pendiri mazhab Hanafi)

Beliau adalah murid dari Ahli Silsilah Tarekat Naqsyabandi yaitu Imam Jafar as Shadiq ra.

Berkaitan dengan hal ini, Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Durr al-Mantsur, meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah berkata, “Jika tidak karena dua tahun, aku telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Imam Jafar as Shadiq, maka saya mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.

IMAM MALIKI (Malik bin Anas - Ulama besar pendiri mazhab Maliki) juga murid Imam Jafar as Shadiq ra, mengungkapkan pernyataannya yang mendukung terhadap ilmu tasawuf sebagai berikut :

“Man tasawaffa wa lam yatafaqa faqad tazandaqa, wa man tafaqaha wa lam yatasawaf faqad tafasaq, wa man tasawaffa wa taraqaha faqad tahaqaq”.

Yang artinya : “Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawuf dengan disertai fiqih dia meraih Kebenaran dan Realitas dalam Islam.” (’Ali al-Adawi dalam kitab Ulama fiqih, juz 2, hal. 195 yang meriwayatkan dari Imam Abul Hasan). 

IMAM SYAFI’I (Muhammad bin Idris, 150-205 H) Ulama besar pendiri mazhab Syafi’i berkata, “Saya berkumpul bersama orang-orang sufi dan menerima 3 ilmu:

  1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara
  2. Mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang lain dengan kasih sayang dan kelembutan hati 
  3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf.”
(Riwayat dari kitab Kasyf al-Khafa dan Muzid al Albas, Imam ‘Ajluni, juz 1, hal. 341)

IMAM AHMAD BIN HANBAL (164-241 H) Ulama besar pendiri mazhab Hanbali berkata, “Anakku, kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka selalu mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka adalah orang-orang zuhud yang memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi. Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” (Ghiza al Albab, juz 1, hal. 120 ; Tanwir al Qulub, hal. 405, Syaikh Amin al Kurdi)

Demikian sedikit tulisan tentang catatan bahwa para ulama panutan kita pun belajar tasawuf dan menekankan betapa pentingnya belajar tasawuf sehingga ibadah yang dijalankan oleh umat Islam tidak kering dari ruh yang menghidupkan ibadah.

Sehingga pada prakteknya ibadah tidak berhenti pada gerakan badan, tapi berlanjut dengan gerak batin yang selalu ingat kepada Allah Swt kapan dan di mana pun.

Barangkali krisis dan dekadensi moral yang melanda bangsa kita, salah satunya karena nilai-nilai ajaran dalam tasawuf tidak dipraktekkan guna menyeimbangkan ilmu syariat yang sudah diamalkan.

Makanya sering kita mendengar ucapan, banyak yang sudah sholat dan puasa, tapi masih mau nyuri atau korupsi. Masih mau nilep dan markup anggaran yang diamanahkan. Saatnya para ulama memperhatikan praktek keagamaan yang terintegrasi antara praktek syari'ah dan batiniah, sehingga Islam bisa dipelajari secara menyeluruh dan tidak parsial.

Terakhir, jika para ulama madzab pun mengakui dan mempelajari tasawuf, akankah para pengkritik tasawuf yang menghakimi dengan kesesatan dan bid'ah, akan mengatakan bahwa ke empat ulama madzab tersebut sesat ?

Sumber referensi tulisan :
http://energikultivasi.wordpress.com/2011/06/23/kesaksian-para-ulama-fiqih-tentang-sufi-dan-tasawuf/
Syaikhina Simbah Kyai Maimoen Zubair dawuh :

‎والله العظيم الفوندوك ليس وسيلة الى الجنة، وإنما الوسيلة هى التعليم

“Demi Allah Dzat Yang Maha Agung, pondok bukan wasilah ke surga, yang menjadi wasilah adalah ngajinya”.

Beliau meneruskan dawuh:

“Pondok iku donyo akeh kyai seng gak faham, mergo pondok iki nek kyaine mati, anake podo rebutan, iki ndudohno ne pondok iki ndunyo. Akidahku lan mbah mbahku kabeh ora podo ngarepno pondok. Aku mulang ihya’ lan ngaji liane neng atine ora ono sekelumit blas pengen due pondok”.

(Pondok itu termasuk bagian dari dunia, banyak kyai yang tidak faham, karna pondok itu kalau kyainya meninggal, anak anaknya saling berebut, itu menunjukan kalau pondok itu bagian dari dunia. Akidahku dan kakek-kakekku semuanya tidak menginginkan pondok. Saya mengajar kitab Ihya’ Ulumiddin dan kitab lainya, di hati tidak ada sekelumit pun ingin punya pondok).

Beliau Syaikhina akhirnya mewanti wanti :

“Pokoke seng kudu mok cekeli koe kudu ngaji lan mulang kitab salaf, Donyo ora bakal kiamat ne wong iseh podo ngaji”.

(Pokoknya yang harus dipegang erat, kamu harus ngaji dan mengajar kitab salaf. Dunia tidak akan kiamat selama orang masih mau mengaji).

(Disarikan santri Sarang dalam Ngaji Mbah Maimoen pada Sabtu, 29 April, 2017).
.
#indonesia #nahdatululama


https://www.facebook.com/100000254544388/posts/2724060740945717/


GUS MIEK : WAJAH SEBUAH KERINDUAN
Oleh : KH. Abdurrahman Wahid
Tulisan ini telah dimuat di harian Kompas, 13 Juni 1993

Pengantar redaksi : Gus Miek, panggilan akrab tokoh sema'an Al Quran, Kyai Haji Hamim Jazuli, Sabtu 5 Juni lalu meninggal di RS Budi Mulya, Surabaya dalam usia 53 tahun, karena mengidap kanker paru-paru dan ginjal akut. Jenazahnya dimakamkan tanggal 6 Juni di Pemakaman Aulia Tambak, Kecamatan Mojo, Kediri, bersebelahan dengan KH Anis Ibrahim dan KH Achmad Sidiq. Teman dekatnya, KH Abdurrahman Wahid -- Ketua PBNU, menuliskan obituari khusus untuk Kompas berikut ini.

TIGA tahun lalu, di beranda sebuah surau di Tambak, Desa Ploso, Kediri, saya berhasil mengejarnya. Mobil yang saya tumpangi menelusuri kota Kediri sebelum melihat mobil Gus Miek di sebuah gang, tengah meninggalkan tempat itu. Dalam kecepatan tinggi, mobilnya menuju ke arah selatan dan hanya dapat kami bayangi dari kejauhan. Setelah membelok ke barat dan kemudian ke utara melalui jalan paralel, akhirnya mobil itu berhenti di depan surau tersebut. Gus Miek sudah meninggalkan mobilnya menuju ke surau itu, ketika mobil tumpangan saya sampai. Ia terkejut melihat kedatangan saya, karena dikiranya saya adalah adiknya, Gus Huda. Rupanya mobil tumpangan saya sama warna dan merek dengan mobil adiknya itu.

Dari beranda itu ia menunjuk sebidang tanah yang baru saja disambungkan ke pekarangan surau dan berkata kepada saya, "Di situ nanti Kiyai Ahmad akan dimakamkan. Demikian juga saya. Dan nantinya sampeyan". Dikatakan, tanah itu sengaja dibelinya untuk tempat penguburan para penghafal Al Quran. Saya katakan kepadanya, bahwa saya bukan penghafal Al Quran. Dijawabnya bahwa bagaimanapun saya harus dikuburkan di situ. Setahun kemudian, ketika KH Ahmad Sidiq wafat, beliau pun dikuburkan di tempat itu atas permintaan Gus Miek. Baru saya sadari bahwa Kiyai Ahmad yang dimaksudkannya setahun sebelum itu adalah KH Ahmad Sidiq.

Hal-hal seperti inilah yang seringkali dijadikan bukti oleh orang banyak, bahwa KH Hamim Jazuli alias Gus Miek adalah seorang dengan kemampuan super natural. Sesuai dengan "tradisi" penyempitan makna istilah, orang awam menyebutnya dengan istilah wali (saint). Kemampuan super natural Kiyai Hamim alias Gus Miek itu, dalam istilahan estakologi orang pesantren, dinamakan sifat khariqul 'adah, alias keanehan-keanehan. Dengan bermacam-macam keanehan yang dimilikinya, Gus Miek lalu memperoleh status orang keramat. Banyak "kesaktian" ditempelkan pada reputasinya. Mau banyak rezeki, harus memperoleh berkahnya. Ingin naik pangkat, harus didukung olehnya. Mau beribadah haji, harus dimakelarinya. Mau gampang jodoh, minta pasangan kepadanya. Dan demikian seterusnya.

Reputasi sebagai orang keramat ini, dinilai sebagai pendorong mengapa banyak orang berbondong-bondong memadati acara keagamaan yang dilangsungkan Gus Miek. Sema'an (bersama-sama mendengarkan bacaan Al-Quran oleh para penghafalnya) yang diselenggarakannya di mana-mana, selalu penuh sesak oleh rakyat banyak. Dari pagi orang bersabar mendengarkan bacaan Al Quran, untuk mengamini doa yang dibacakan Gus Miek seusai menamatkan bacaan Al Quran secara utuh, biasanya sekitar jam delapan malam. Bersabar mereka menanti sepanjang hari, untuk memperoleh siraman jiwa berupa maui'izah hasanah (petuah yang baik) dari tokoh kharismatik ini. Padahal, sepagian itu ia masih tidur, setelah begadang semalam suntuk. Itulah acara rutinnya, di mana pun ia berada.

Baru belakangan orang menyadari, bahwa Gus Miek menempuh dua pola kehidupan sekaligus. Kehidupan tradisional orang pesantren, tertuang dalam rutinitas sema'an, dan gebyarnya kehidupan dunia hiburan modern. Gebyar, karena dia selamanya berada di tengah diskotik, night club, coffee shop dan "arena persinggahan perkampungan" orang-orang tuna susila.

Tidak tanggung-tanggung, ia akrab dengan seluruh penghuni dan aktor kehidupan tempat tersebut. Yang ditenggaknya adalah bir hitam, yang setiap malam ia nikmati berbotol-botol. Rokoknya Wismilak bungkus hitam, yang ramuannya diakui berat.

Kontradiktif? Ternyata tidak, karena di kedua tempat itu ia berperanan sama. Memberikan kesejukan kepada jiwa yang gersang, memberikan harapan kepada mereka yang putus asa, menghibur mereka yang bersedih, menyantuni mereka yang putus asa, menghibur mereka yang bersedih, menyantuni mereka yang lemah dan mengajak semua kepada kebaikan. Apakah itu petuah di pengajian seusai sema'an, sewaktu konsultasi pribadi dengan pejabat dan kaum elit lainnya, ataupun ketika meladeni bisikan kepedihan yang disampaikan dengan suara lirih ke telinganya oleh wanita-wanita penghibur, esensinya tetap sama. Manusia mempunyai potensi memperbaiki keadaannya sendiri.

***

DUA tahun yang lalu, Gus Miek mengatakan kepada saya, bahwa saya harus mundur dari NU. Saya baca hal itu sebagai imbauan, agar saya teruskan perjuangan menegakkan demokrasi di negeri kita, tetapi dengan tidak "merugikan" kepentingan organisasi yang saat ini sedang saya pimpin. Dikatakan, sebaiknya saya mengikuti jejaknya berkiprah secara individual melayani semua lapisan masyarakat. Saya tolak ajakan itu dua tahun yang lalu, karena saya beranggapan perjuangan melalui NU masih tetap efektif.

Baru sekarang saya sadari, menjelang saat kepulangan Gus Miek ke haribaan Tuhan, bahwa ia membaca tanda zaman lebih jeli daripada saya. Bahwa dengan "menggendong" beban NU, upaya menegakkan demokrasi tidak menjadi semakin mudah. Karena para pemimpin NU yang lain justru tidak ingin kemapanan yang ada diusik orang. Dari tokoh inilah saya belajar untuk membedakan apa yang menjadi pokok persoalan, dan apa yang sekadar ranting.

Tetapi, Gus Miek juga hanyalah manusia biasa. Manusia yang memiliki kekuatan dan kelemahan, kelebihan dan kekurangan. Keseimbangan hidupnya tidak bertahan lama oleh ketimpangan pendekatan yang diambilnya. Ia menjadi terlalu memperhatikan kepentingan orang-orang besar dan para pemimpin tingkat nasional. Ia juga tidak menjadi imun terhadap kenikmatan hidup dunia gebyar. Untuk beberapa bulan hubungan saya dengan Gus Miek secara batin menjadi sangat terganggu karena hal-hal itu. Saya menolak untuk mendukung jagonya untuk jabatan Wapres, dan ini membuat ia tidak enak perasaan kepada saya.

Mungkin, tidak dipahaminya keinginan saya agar agama tidak dimanipulasikan dengan politik negara. Tugas pemimpin agama adalah menjaga keutuhan bangsa dan negara dan berupaya agar kebenaran dapat ditegakkan. Sedangkan kebenaran itu akan terjelma melalui kedaulatan rakyat sesungguhnya, kedaulatan hukum, kebebasan dan persamaan perlakuan di muka undang-undang.

Tetapi, sejauh apa pun hubungan batin kami berdua, saya sendiri tetap rindu kepada Gus Miek. Bukan kepada gebyarnya dunia hiburan. Tetapi bahwa kalau malam, menjelang pagi, ia tidur beralaskan kertas koran di rumah Pak Syafi'i Ampel di kota Surabaya, atau Pak Hamid di Kediri. Yang dimiliki Pak Hamid hanyalah sebuah kursi plastik jebol dan dua buah gelas serta sebuah teko logam. Itulah dunia Gus Miek yang sebenarnya, yang ditinggalkannya untuk beberapa bulan mungkin hanya sebagai sebuah kelengkapan lakonnya yang panjang. Agar ia tetap masih menjadi manusia, bukan malaikat.

Yang selalu saya kenang adalah kerinduannya kepada upaya perbaikan dalam diri manusia. Karena itu, ulama idolanya pun adalah yang membunyikan lonceng harapan dan genta kebaikan, bukan hardikan dan kemarahan kepada hal-hal yang buruk. Tiap 40 hari sekali ia mengaji di makam Kiyai Ihsan Jampes, yang terletak di tepi Brantas di dukuh Mutih, pinggiran kota Kediri. Ia gandrung kepada Mbah Mesir yang dimakamkan di Trenggalek, pembawa tarekat Sadziliyah dua ratus tahun yang lalu ke Jawa Timur. Tarekat itu adalah tarekatnya orang kecil, dan membimbing rakyat awam yang penuh kehausan rasa kasih dan sapaan yang santun.

Gus Miek inilah yang melalui transendensi keimanannya tidak lagi melihat "kesalahan" keyakinan orang beragama atau berkepercayaan lain. Ayu Wedayanti yang Hindu diperlakukannya sama dengan Neno Warisman yang muslimah, karena ia yakin kebaikan sama berada pada dua orang penyanyi tersebut. Banyak orang Katolik menjadi pendengar setia wejangan Gus Miek seusai sema'an.

Kerinduannya kepada realisasi potensi kebaikan pada diri manusia inilah yang menurut saya menjadikan Gus Miek super natural. Bukan karena ia menyalahi ketentuan hukum-hukum alam. Super karena dia mampu mengatasi segala macam jurang pemisah dan tembok penyekat antara sesama manusia. Natural, karena yang ia harapkan hanyalah kebaikan bagi manusia. Kalau ia dianggap nyleneh (khariqul 'adah), maka dalam artian inilah ia harus dipahami demikian. Bukankah nyleneh orang yang tidak peduli batasan agama, etnis dan profesi dan tidak hirau apa yang dinamakan baik dan buruk di mata kebanyakan manusia, sementara manusia saling menghancurkan dan membunuh?

Dimuat di Harian KOMPAS Minggu, 13-06-1993