Minggu, 20 Oktober 2019

Syaikhina Simbah Kyai Maimoen Zubair dawuh :

‎والله العظيم الفوندوك ليس وسيلة الى الجنة، وإنما الوسيلة هى التعليم

“Demi Allah Dzat Yang Maha Agung, pondok bukan wasilah ke surga, yang menjadi wasilah adalah ngajinya”.

Beliau meneruskan dawuh:

“Pondok iku donyo akeh kyai seng gak faham, mergo pondok iki nek kyaine mati, anake podo rebutan, iki ndudohno ne pondok iki ndunyo. Akidahku lan mbah mbahku kabeh ora podo ngarepno pondok. Aku mulang ihya’ lan ngaji liane neng atine ora ono sekelumit blas pengen due pondok”.

(Pondok itu termasuk bagian dari dunia, banyak kyai yang tidak faham, karna pondok itu kalau kyainya meninggal, anak anaknya saling berebut, itu menunjukan kalau pondok itu bagian dari dunia. Akidahku dan kakek-kakekku semuanya tidak menginginkan pondok. Saya mengajar kitab Ihya’ Ulumiddin dan kitab lainya, di hati tidak ada sekelumit pun ingin punya pondok).

Beliau Syaikhina akhirnya mewanti wanti :

“Pokoke seng kudu mok cekeli koe kudu ngaji lan mulang kitab salaf, Donyo ora bakal kiamat ne wong iseh podo ngaji”.

(Pokoknya yang harus dipegang erat, kamu harus ngaji dan mengajar kitab salaf. Dunia tidak akan kiamat selama orang masih mau mengaji).

(Disarikan santri Sarang dalam Ngaji Mbah Maimoen pada Sabtu, 29 April, 2017).
.
#indonesia #nahdatululama


https://www.facebook.com/100000254544388/posts/2724060740945717/


GUS MIEK : WAJAH SEBUAH KERINDUAN
Oleh : KH. Abdurrahman Wahid
Tulisan ini telah dimuat di harian Kompas, 13 Juni 1993

Pengantar redaksi : Gus Miek, panggilan akrab tokoh sema'an Al Quran, Kyai Haji Hamim Jazuli, Sabtu 5 Juni lalu meninggal di RS Budi Mulya, Surabaya dalam usia 53 tahun, karena mengidap kanker paru-paru dan ginjal akut. Jenazahnya dimakamkan tanggal 6 Juni di Pemakaman Aulia Tambak, Kecamatan Mojo, Kediri, bersebelahan dengan KH Anis Ibrahim dan KH Achmad Sidiq. Teman dekatnya, KH Abdurrahman Wahid -- Ketua PBNU, menuliskan obituari khusus untuk Kompas berikut ini.

TIGA tahun lalu, di beranda sebuah surau di Tambak, Desa Ploso, Kediri, saya berhasil mengejarnya. Mobil yang saya tumpangi menelusuri kota Kediri sebelum melihat mobil Gus Miek di sebuah gang, tengah meninggalkan tempat itu. Dalam kecepatan tinggi, mobilnya menuju ke arah selatan dan hanya dapat kami bayangi dari kejauhan. Setelah membelok ke barat dan kemudian ke utara melalui jalan paralel, akhirnya mobil itu berhenti di depan surau tersebut. Gus Miek sudah meninggalkan mobilnya menuju ke surau itu, ketika mobil tumpangan saya sampai. Ia terkejut melihat kedatangan saya, karena dikiranya saya adalah adiknya, Gus Huda. Rupanya mobil tumpangan saya sama warna dan merek dengan mobil adiknya itu.

Dari beranda itu ia menunjuk sebidang tanah yang baru saja disambungkan ke pekarangan surau dan berkata kepada saya, "Di situ nanti Kiyai Ahmad akan dimakamkan. Demikian juga saya. Dan nantinya sampeyan". Dikatakan, tanah itu sengaja dibelinya untuk tempat penguburan para penghafal Al Quran. Saya katakan kepadanya, bahwa saya bukan penghafal Al Quran. Dijawabnya bahwa bagaimanapun saya harus dikuburkan di situ. Setahun kemudian, ketika KH Ahmad Sidiq wafat, beliau pun dikuburkan di tempat itu atas permintaan Gus Miek. Baru saya sadari bahwa Kiyai Ahmad yang dimaksudkannya setahun sebelum itu adalah KH Ahmad Sidiq.

Hal-hal seperti inilah yang seringkali dijadikan bukti oleh orang banyak, bahwa KH Hamim Jazuli alias Gus Miek adalah seorang dengan kemampuan super natural. Sesuai dengan "tradisi" penyempitan makna istilah, orang awam menyebutnya dengan istilah wali (saint). Kemampuan super natural Kiyai Hamim alias Gus Miek itu, dalam istilahan estakologi orang pesantren, dinamakan sifat khariqul 'adah, alias keanehan-keanehan. Dengan bermacam-macam keanehan yang dimilikinya, Gus Miek lalu memperoleh status orang keramat. Banyak "kesaktian" ditempelkan pada reputasinya. Mau banyak rezeki, harus memperoleh berkahnya. Ingin naik pangkat, harus didukung olehnya. Mau beribadah haji, harus dimakelarinya. Mau gampang jodoh, minta pasangan kepadanya. Dan demikian seterusnya.

Reputasi sebagai orang keramat ini, dinilai sebagai pendorong mengapa banyak orang berbondong-bondong memadati acara keagamaan yang dilangsungkan Gus Miek. Sema'an (bersama-sama mendengarkan bacaan Al-Quran oleh para penghafalnya) yang diselenggarakannya di mana-mana, selalu penuh sesak oleh rakyat banyak. Dari pagi orang bersabar mendengarkan bacaan Al Quran, untuk mengamini doa yang dibacakan Gus Miek seusai menamatkan bacaan Al Quran secara utuh, biasanya sekitar jam delapan malam. Bersabar mereka menanti sepanjang hari, untuk memperoleh siraman jiwa berupa maui'izah hasanah (petuah yang baik) dari tokoh kharismatik ini. Padahal, sepagian itu ia masih tidur, setelah begadang semalam suntuk. Itulah acara rutinnya, di mana pun ia berada.

Baru belakangan orang menyadari, bahwa Gus Miek menempuh dua pola kehidupan sekaligus. Kehidupan tradisional orang pesantren, tertuang dalam rutinitas sema'an, dan gebyarnya kehidupan dunia hiburan modern. Gebyar, karena dia selamanya berada di tengah diskotik, night club, coffee shop dan "arena persinggahan perkampungan" orang-orang tuna susila.

Tidak tanggung-tanggung, ia akrab dengan seluruh penghuni dan aktor kehidupan tempat tersebut. Yang ditenggaknya adalah bir hitam, yang setiap malam ia nikmati berbotol-botol. Rokoknya Wismilak bungkus hitam, yang ramuannya diakui berat.

Kontradiktif? Ternyata tidak, karena di kedua tempat itu ia berperanan sama. Memberikan kesejukan kepada jiwa yang gersang, memberikan harapan kepada mereka yang putus asa, menghibur mereka yang bersedih, menyantuni mereka yang putus asa, menghibur mereka yang bersedih, menyantuni mereka yang lemah dan mengajak semua kepada kebaikan. Apakah itu petuah di pengajian seusai sema'an, sewaktu konsultasi pribadi dengan pejabat dan kaum elit lainnya, ataupun ketika meladeni bisikan kepedihan yang disampaikan dengan suara lirih ke telinganya oleh wanita-wanita penghibur, esensinya tetap sama. Manusia mempunyai potensi memperbaiki keadaannya sendiri.

***

DUA tahun yang lalu, Gus Miek mengatakan kepada saya, bahwa saya harus mundur dari NU. Saya baca hal itu sebagai imbauan, agar saya teruskan perjuangan menegakkan demokrasi di negeri kita, tetapi dengan tidak "merugikan" kepentingan organisasi yang saat ini sedang saya pimpin. Dikatakan, sebaiknya saya mengikuti jejaknya berkiprah secara individual melayani semua lapisan masyarakat. Saya tolak ajakan itu dua tahun yang lalu, karena saya beranggapan perjuangan melalui NU masih tetap efektif.

Baru sekarang saya sadari, menjelang saat kepulangan Gus Miek ke haribaan Tuhan, bahwa ia membaca tanda zaman lebih jeli daripada saya. Bahwa dengan "menggendong" beban NU, upaya menegakkan demokrasi tidak menjadi semakin mudah. Karena para pemimpin NU yang lain justru tidak ingin kemapanan yang ada diusik orang. Dari tokoh inilah saya belajar untuk membedakan apa yang menjadi pokok persoalan, dan apa yang sekadar ranting.

Tetapi, Gus Miek juga hanyalah manusia biasa. Manusia yang memiliki kekuatan dan kelemahan, kelebihan dan kekurangan. Keseimbangan hidupnya tidak bertahan lama oleh ketimpangan pendekatan yang diambilnya. Ia menjadi terlalu memperhatikan kepentingan orang-orang besar dan para pemimpin tingkat nasional. Ia juga tidak menjadi imun terhadap kenikmatan hidup dunia gebyar. Untuk beberapa bulan hubungan saya dengan Gus Miek secara batin menjadi sangat terganggu karena hal-hal itu. Saya menolak untuk mendukung jagonya untuk jabatan Wapres, dan ini membuat ia tidak enak perasaan kepada saya.

Mungkin, tidak dipahaminya keinginan saya agar agama tidak dimanipulasikan dengan politik negara. Tugas pemimpin agama adalah menjaga keutuhan bangsa dan negara dan berupaya agar kebenaran dapat ditegakkan. Sedangkan kebenaran itu akan terjelma melalui kedaulatan rakyat sesungguhnya, kedaulatan hukum, kebebasan dan persamaan perlakuan di muka undang-undang.

Tetapi, sejauh apa pun hubungan batin kami berdua, saya sendiri tetap rindu kepada Gus Miek. Bukan kepada gebyarnya dunia hiburan. Tetapi bahwa kalau malam, menjelang pagi, ia tidur beralaskan kertas koran di rumah Pak Syafi'i Ampel di kota Surabaya, atau Pak Hamid di Kediri. Yang dimiliki Pak Hamid hanyalah sebuah kursi plastik jebol dan dua buah gelas serta sebuah teko logam. Itulah dunia Gus Miek yang sebenarnya, yang ditinggalkannya untuk beberapa bulan mungkin hanya sebagai sebuah kelengkapan lakonnya yang panjang. Agar ia tetap masih menjadi manusia, bukan malaikat.

Yang selalu saya kenang adalah kerinduannya kepada upaya perbaikan dalam diri manusia. Karena itu, ulama idolanya pun adalah yang membunyikan lonceng harapan dan genta kebaikan, bukan hardikan dan kemarahan kepada hal-hal yang buruk. Tiap 40 hari sekali ia mengaji di makam Kiyai Ihsan Jampes, yang terletak di tepi Brantas di dukuh Mutih, pinggiran kota Kediri. Ia gandrung kepada Mbah Mesir yang dimakamkan di Trenggalek, pembawa tarekat Sadziliyah dua ratus tahun yang lalu ke Jawa Timur. Tarekat itu adalah tarekatnya orang kecil, dan membimbing rakyat awam yang penuh kehausan rasa kasih dan sapaan yang santun.

Gus Miek inilah yang melalui transendensi keimanannya tidak lagi melihat "kesalahan" keyakinan orang beragama atau berkepercayaan lain. Ayu Wedayanti yang Hindu diperlakukannya sama dengan Neno Warisman yang muslimah, karena ia yakin kebaikan sama berada pada dua orang penyanyi tersebut. Banyak orang Katolik menjadi pendengar setia wejangan Gus Miek seusai sema'an.

Kerinduannya kepada realisasi potensi kebaikan pada diri manusia inilah yang menurut saya menjadikan Gus Miek super natural. Bukan karena ia menyalahi ketentuan hukum-hukum alam. Super karena dia mampu mengatasi segala macam jurang pemisah dan tembok penyekat antara sesama manusia. Natural, karena yang ia harapkan hanyalah kebaikan bagi manusia. Kalau ia dianggap nyleneh (khariqul 'adah), maka dalam artian inilah ia harus dipahami demikian. Bukankah nyleneh orang yang tidak peduli batasan agama, etnis dan profesi dan tidak hirau apa yang dinamakan baik dan buruk di mata kebanyakan manusia, sementara manusia saling menghancurkan dan membunuh?

Dimuat di Harian KOMPAS Minggu, 13-06-1993

PESAN GUS BAHA' KEPADA USTADZ YANG TERLALU KERAS KEPADA PEMERINTAH


Bahauddin atau Gus Baha adalah putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Al Qur’an di Kragan, Narukan, Rembang. Kiai Nur Salim adalah murid dari Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam, Kajen, Pati.

Salah satu pernyataan Gus Baha yang patut dijadikan bahan instrospeksi adalah ketika beliau menjawab permintaan nasihat salah satu audiens agar anak-anak muda NU juga mau turun berdakwah pada acara ngaji bareng Gus Baha dalam rangka memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw di Masjid Bayt Al-Qur’an di Pondok Cabe Tangsel, pada hari Rabu 03 April 2019 lalu.

Gus Baha merupakan salah satu kiai produk pesantren yang sangat alim, hafal Al-Qur’an dan fasih dalam berbagai bidang ilmu keagamaan. Video pengajiannya telah banyak tersebar di berbagai jejaring sosial dan Youtube.

Gus Baha berpesan bahwa kalau berdakwah itu harus bilhikmati wal mauidhatil hasanah (dengan hikmah dan pesan yang baik). Kemudian Gus Baha bercerita tentang kisah Harun Ar Rasyid dan ustadz amatir.

Dahulu, ada seorang ustadz, ustadz amatir yang berani datang ke Harun Ar Rasyid. Seorang khalifah yang alim pada masa Dinasti Abbasiyah, temannya Imam Malik, jadi termasuk khalifah yang shalih.

Ustadz amatir itu berkata:

يا أمير المؤمنين إني ناصح لك فمشدد عليك تجدن في نفسك علي شيء

Ya amiral mukminin inni nasihun laka famusyaddidun alaika tajidanna finafsika alayya syai’un.

“Ya amiral mukminin, saya akan menasihati kamu, cuman saya agak ekstrem tolong jangan dimasukkan hati, saya akan ngomong keras, lantang.” Padahal ia berbicara kepada presiden, amirul mukminin.

Mendengar ketidaksopanan ustadz amatir itu, Harun Ar Rasyid pun berkata :

أسكت, فإن الله تعالي قد بعث من هو خير منك إلي من هو شر مني. ومع ذلك يقول الله تعالي وقولا له قولا لينا

Uskut, fainna Allaha ta’ala qad ba’atsa man huwa khairun minka ila man huwa syarrun minni wa ma’a dzalika yaquulu ta’ala wa quula lahu qaulan layyina.

“Hai ustadz kamu diam, Allah itu pernah menugaskan orang yang lebih baik ketimbang kamu yaitu Nabi Musa dan Harun kepada orang yang lebih buruk ketimbang saya, yaitu Fir’aun. itu saja ada etikanya, faquula lahu qaulan layyinan koq kamu sama saya mau keras nggak bisa,”

Ustadz amatir itu pun langsung berkata, “Ternyata kamu lebih alim.”

Dari kisah tersebut, Gus Baha berkata, “Kalau ada ustadz terlalu keras, terlalu tegas, misalnya kepada waliyyul amri (pemimpin pemerintah), kepada penguasa, maka kata Harun Ar Rasyid “Uskut ya ustadz, kamu diem wahai ustadz.”

Keterangan Gus Baha tersebut sangat memberikan instrospeksi kepada kita di mana masih banyak ustadz-ustadz yang ketika berdakwah terkesan “ugal-ugalan” tidak mau mengikuti etika dan tatakrama. Padahal, Rasulullah Saw sendiri diutus oleh Allah Swt untuk memperbaiki akhlak manusia. Lalu, bagaimana akhlak manusia akan sempurna jika para pendakwahnya saja tidak menunjukkan akhlak yag baik.

Kisah Harun Ar Rasyid dan ustadz amatir tersebut juga dimaksudkan Gus Baha agar anak-anak PSQ (Pusat Studi Al-Qur’an) binaan Prof. Quraish Shihab khususnya dan pada seluruh orang yang hafal Al-Qur’an pada umumnya agar ayat Al-Qur’an yang dihafal itu total, dalam arti menyatu pada dirinya.

“Jadi, kalau ulama dulu itu sudah menyatu dengan ayat, melihat apa saja itu langsung terbaca ayatnya. Saya mohon yang hafal Al-Qur’an harus hafalan dhahri qalbi (di luar kepala dan meresap dalam hatinya) karena itu cara spontanitas Anda.” Tegas Gus Baha. 

Wallahu a’lam bishowab

https://www.facebook.com/743629902411151/posts/2433234200117371/

ALHAMDULILLAH, RUU PESANTREN DISAHKAN




Pemerintah bersama DPR RI akhirnya menyepakati 49 pasal yang tertuang dalam draf RUU tentang Pesantren. RUU ini selanjutnya akan diajukan untuk disahkan melalui Sidang Paripurna. Hari ini,  Menteri Agama RI menandatangani pengesahan RUU pesantren.  Akhirnya lulusan Pondok pesantren setara dengan sekolah formal,  wajib kita syukuri sebagai insan pesantren. 

Dengan disahkannya RUU Pesantren tersebut, maka pesantren dan para santri alumninya akan sejajar secara administrasi dengan pendidikan formal dan alumni non-pesantren. Dia juga akan menjaga sanad ilmu Islam yang otoritatif.

Baca Pula : Mengintip RUU Pesantren

Ketua PBNU,  Prof DR KH said Aqil Siradj,  MA,  mengatakan bahwa Jika RUU Pesantren sudah disahkan menjadi UU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan, maka harus dikawal agar bermanfaat bagi pesantren.

Salah satu hal yang ditolak dari RUU Pesantren dari mereka yang tidak sepakat adalah pemahaman tentang Kitab Kuning yang menjadi dasar wasilah didik. Kitab kuning itu kan istilah tentang kitab karangan ulama yang mu'tabar. Justru RUU ini akan menjaga sanad Ilmu.

Bagi kalangan pesantren, RUU Pesantren ini penting untuk kemajuan pesantren ke depannya. Sebab, jika menggunakan UU Sisdiknas, maka pesantren akan telantar atau terbengkelai terus karena selama ini pemihakan ditujukan terutama kepada sekolah formal. 

Selama ini negara masih belum memperhatikan dengan baik eksistensi pesantren, dari sisi sarana dan prasarana, pembiayaan maupun tenaga kependidikannya.

RUU Pesantren adalah upaya negara mengakui eksistensi pendidikan pondok pesantren. 

Dengan kelak adanya UU Pesantren, akan menjadi tegas bahwa pesantren juga akan mendapatkan porsi dana dari 20 % APBN. 

Menjadi jelas bahwa salah satu rujukan lembaga yang disebut Pesantren adalah kitab-kitab kuning, yang berarti pesantren akan merujuk kepada kitab-kitab klasik para Ulama otorotatif. Ini akan menjaga sanad keilmuan Islam dari penyimpangan sebab tidak memiliki rujukan otoritatif. 

Pada pasal 3 juga sangat jelas disebutkan bahwa salah satu tujuan penyelenggaraan pesantren adalah membentuk pemahan agama dan keberagamaan yang moderat dan cinta tanah air.  Lembaga Pesantren yg mengajarkan ekstrimisme tentu diluar dari makna ini. 

Pasal 6 juga sangat jelas menegaskan bahwa syarat pendirian pesantren adalah berkomitmen mengamalkan nilai Islam Rahmatan lilalamin, Pancasila, UUD 45 dan NKRI. Ini akan menutup semua celah lembaga pesantren yang tidak berkomitmen terhadap nilai-nilai tersebut. 

Secara admiistrasi pun UU Pesantren menegaskan bahwa ijazah  pesantren jalur pendidikan non formal akan disamakan dengan lembaga pendidikan lain dan bisa melanjutkan pendidikan formal yang lebih tinggi.  

Dan secara tegas juga disebutkan bahwa pemerintah pusat akan membantu pendanaan penyelenggaraan pesantrean melalui APBD atau APBN. 

RUU ini akan memperkuat institusi dan kelembagaan madrasah dan pesantren meskipun sejak berabad-abad lalu pesantren sudah membuktikan kemandiriannya.

UU ini nanti juga akan memperkuat dan mempertajam keinginan atau good will negara terhadap madrasah dan pesantren. 


@BaskoroAbimanyu

Sabtu, 19 Oktober 2019

Membongkar Fakta Sejarah Hari Pahlawan 10 November dan Resolusi Jihad 22 Oktober yang Disembunyikan


Banyak orang yang tidak paham fakta adanya fatwa resolusi jihad 22 Oktober 1945 karena tidak ditulis dalam buku sejarah di sekolah. Ada apa sebenarnya?

Sejarah pertempuran 10 November, awalnya tidak ada yang mau mengakui fatwa & resolusi jihad itu pernah ada. Tulisanya Prof. Ruslan Abdul Gani, yang ikut terlibat, resolusi jihad disebut tidak pernah ada.

Bung tomo yang pidato teriak-teriak, dalam bukunya juga tidak pernah menyebutkan bahwa fatwa & resolusi jihad pernah ada. Laporan tulisan mayor Jendral Sungkono juga tidak menyebut pernah ada fatwa & resolusi jihad.

Karena itu banyak orang menganggap fatwa & resolusi jihad itu hanya dongeng dan ceritanya orang NU saja. “Di antara elemen bangsa Indonesia yang tidak memiliki peran dan andil dalam usaha kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia itu hanya golongan pesantren hususnya NU”.

Itu kesimpulan seminar nasional di perguruan tinggi negeri besar di Jakarta tentang perjuangan menegakkan Negara Republik Indonesia pada tahun 2014. Bahkan dengan sinis salah seorang menyatakan, “Organisasi PKI, itu saja pernah berjasa. Karena pernah melakukan pemberontakan tahun 1926 melawan Belanda. NU tidak pernah”. Aneh.

Pandangan ini juga pernah dianut oleh tokoh-tokoh LIPI. Gus Dur juga mengkonfirmasi kalau sejarah ulama dan Kyai memang sudah lama ingin dilenyapkan. Tahun 1990 ada peringatan 45 tahun pertempuran 10 November. Yang jadi pahlawan besar dalam pertempuran 10 November diumumkan dari golongan itu.

Yakni orang terpelajar yang berpendidikan tinggi. Nama-nama mereka muncul tersebar di televisi, koran, dan majalah. “Itu ceritanya, 10 November yang berjasa itu harusnya Kyai Hasyim Asy'ari dan poro Kyai. Kok bisa yang jadi pahlawan itu wong-wong sosialis?”. Itu komentar Nyai Sholihah, ibu Gus Dur.

Dari situlah Gus Dur diminta untuk klarifikasi. Lalu Gus Dur klarifikasi, menemui tokoh-tokoh tua & senior di kalangan kelompok sosialis, mengenai 10 November. Sambil ketawa-ketawa mereka menjawab, “Yang namanya sejarah dari dulu kan selalu berulang, Gus. Bahwa sejarah sudah mencatat, orang bodoh itu makanannya orang pintar”.

“Yang berjasa orang bodoh, tapi yang jadi pahlawan wong pinter. Itu biasa, Gus”, katanya kepada Gus Dur. Gus dur marah betul dibegitukan. Sampai tahun 90-an NU masih dinganggap bodoh mereka. Tahun 91, Gus Dur melakukan kaderisasi besar-besaran anak muda NU.

Anak-anak santri dilatih mengenal analisis sosial (ansos) dan teori sosial, filsafat, sejarah, geopolitik, & geostrategi. Semua diajari. Supaya tidak lagi dianggap bodoh. Dan kemudian berkembang hingga kini. “Saya termasuk yang ikut pertama kali kaderisasi itu. karena itu agak faham”, kata KH. Agus Sunyoto.

Saat penulis sejarah Indonesia menyatakan fatwa dan resolusi jihad tidak ada, KH. Agus Sunyoto menemukan tulisan sejarawan Amerika, Frederik Anderson. Dalam tulisanya tentang penjajahan jepang di Indonesia thn 42 sampai 45, ia menulis begini:

22 Oktober 1945 pernah ada resolusi jihad yg dikeluarkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Surabaya. Tanggal 27 Oktober, Koran Kedaulatan Rakyat juga memuat lengkap resolusi jihad. Koran Suara Masyarakat di Jakarta, juga memuat resolusi jihad.

Peristiwa ini ada, sekalipun wong Indonesia tidak mau menulisnya, karena menganggap NU yang mengeluarkan fatwa sebagai golongan lapisan bawah. Sejarah dikebiri. Dokumen-dokumen lama yang sebagian besar berbahasa Belanda, Inggris, Perancis, Jepang, dan sebagainya, dibongkar.

Patahlah semua anutan doktor sejarah yang menyatakan NU tidak punya peran apa-apa terhadap kemerdekaan.

Ketika Indonesia pertama kali merdeka 45, kita gak punya tentara.  Baru dua bulan kemudian ada tentara. Agustus, September, lalu pada 5 Oktober dibentuk tentara keamanan rakyat (TKR). Tanggal 10 Oktober diumumkanlah jumlah tentara TKR di Jawa saja. Ternyata, TKR di Jawa ada 10 divisi. 1 divisi isinya 10.000 prajurit. 
Terdiri atas 3 resimen dan 15 batalyon.

Artinya TKR jumlahnya ada 100.000 pasukan. Itu TKR pertama. Yang nanti menjadi TNI. Dan komandan divisi pertama TKR itu bernama Kolonel KH. Sam’un, pengasuh pesantren di Banten. Komandan divisi ketiga masih Kyai, yakni kolonel KH. Arwiji Kartawinata (Tasikmalaya). Sampai tingkat resimen Kyai juga yang memimpin.

Fakta, resimen 17 dipimpin oleh Letnan Kolonel KH. Iskandar Idris. Resimen 8 dipimpin Letnan Kolonel KH. Yunus Anis. Di batalyon pun banyak komandan Kyai. Komandan batalyon TKR Malang misalnya, dipimpin Mayor KH. Iskandar 
Sulaiman yang saat itu menjabat Rais Suriyah NU Kabupaten Malang. Ini dokumen arsip nasional, ada Sekretariat Negara dan TNI.

Tapi semua data itu tidak ada di buku bacaan anak SD/SMP/SMA. Seolah tidak ada peran Kyai. KH. Hasyim Asy'ari yang ditetapkan pahlawan oleh Bung Karno pun tidak ditulis. Jadi jasa para Kyai dan santri memang dulu disingkirkan betul dari sejarah berdirinya Republik Indonesia ini.

Waktu itu, Indonesia baru berdiri. Tidak ada duit untuk bayar tentara. Hanya paro Kyai dengan santri-santri yang menjadi tentara dan mau berjuang sebagai militer tanpa bayaran. Hanya paro Kyai, dengan tentara-tentara Hizbulloh yang mau korban nyawa tanpa dibayar. Sampai sekarang pun, NU masih punya tentara swasta namanya Banser, ya gak dibayar. Wkwkwk

Tentara itu baru menerima bayaran pada tahun 1950. Selama 45 sampai perjuangan di tahun 50-an itu, tidak ada tentara yang dibayar negara. Kalau mau mikir, 10 November Surabaya adalah peristiwa paling aneh dalam sejarah. Kenapa? Kok bisa ada pertempuran besar yg terjadi setelah perang dunia selesai 15 Agustus.

Sebelum pertempuran 10 November, ternyata ada perang 4 hari di Surabaya. Tanggal 26, 27, 28, 29 oktober 1945. Kok ‘ujug-ujug’ muncul perang 4 hari di ceritanya gimana? Jawabnya: Karena sebelum tanggal 26 Oktober, Surabaya bergolak, 
setelah ada fatwa resolusi jihad PBNU pada tanggal 22 Oktober. Kini diperingati sbg Hari Santri.

Tentara Inggris sendiri aslinya tidak pernah berfikir akan perang dan bertempur dg penduduk Surabaya. Perang selesai kok. Begitu pikirnya. Tapi karena masarakat Surabaya terpengaruh fatwa dan resolusi jihad, mereka siap nyerang Inggris, yang waktu itu mendarat di Surabaya. Sejarah inilah yang selama ini ditutupi.

Jika resolusi jihad ditutupi, orang yang membaca sekilas peristiwa 10 November akan menyebut tentara Inggris ‘ora waras’. Ngapain Ngebomi kota Surabaya tanpa sebab? Tapi kalau melihat rangkaian ini dari resolusi jihad, baru masuk akal. “Oya, marah mereka karena jenderal dan pasukannya dibunuh arek-arek Bonek Suroboyo”.

Fatwa Jihad muncul krn Presiden Soekarno meminta fatwa kepada
PBNU: apa yg harus dilakukan warga Negara Indonesia kalau diserang musuh mengingat Belanda ingin kembali menguasai. Bung Karno juga menyatakan bagaimana cara agar Negara Indonesia diakui dunia. Sejak diproklamasikan 17 Agustus dan dibentuk 18 Agustus, tidak ada satupun negara di dunia yang mau mengakui.

Oleh dunia, Indonesia diberitakan sebagai Negara boneka bikinan Jepang. Bukan atas kehendak rakyat. Artinya, Indonesia disebut sebagai negara yang tidak dibela rakyat. Fatwa dan Resolusi Jihad lalu dimunculkan oleh PBNU. Gara-gara itu, Inggris yang mau datang 25 Oktober tidak diperbolehkan masuk Surabaya karena penduduk Surabaya sudah siap perang.

Ternyata sore hari, Gubernur Jawa Timur mempersilakan. “Silahkan Inggris masuk tapi di tempat yang secukupnya saja”. Ditunjukkanlah beberapa lokasi, kemudian mereka masuk. Tanggal 26 Oktober, ternyata Inggris malah membangun banyak pos-pos pertahanan dengan karung-karung pasir yang ditumpuk & diisi senapan mesin.

“Lho, ini apa maunya Inggris. Kan sudah tersiar kabar luas kalau 
Belanda akan kembali menguasai Indonesia dengan membonceng tentara Inggris”, begitu kata arek-arek. Pada 26 Oktober sore hari, pos pertahanan itu diserang massa. Penduduk Surabaya dari kampung-kampung keluar ‘nawur’ pasukan inggris. “Ayo ‘tawur..tawuran..’!”.

Para pelaku mengatakan, itu bukan perang mas, tp tawuran. Kenapa? Gak ada komandanya, gak ada yg memimpin. “Pokoke wong krungu jihad.. 
jihad… Mbah hasyim.. Mbah hasyim…”. Berduyun-duyun, arek2 Suroboyo sudah, keluar rumah semua dan 
langsung tawur sambil teriak ‘Allahu Akbar’ dan itu berlangsung 27 Oktober.

Mereka bergerak karena seruan jihad Mbah Hasyim itu disiarkan lewat 
langgar-langgar, masjid-masjid, dan spiker-spiker. Pada 28 Oktober, tentara ikut arus arek2, ikut gelut dengan Inggris. Massa langsung dipimpin tentara. Dalam pertempuran 28 Oktober ini, 1000 lebih tentara Inggris mati dibunuh.

Tapi tentara tidak mau mengakui, karena Indonesia meski sudah merdeka, belum ada yang mengakui. Itu jadi urusan besar tingkat dunia jika ada kabar tentara Indonesia bunuh Inggris. Tentara tidak mau ikut campur. Negara belum ada yang mengakui kok sudah klaim bunuh tentara Inggris. Itu semua ikhtiyar arek-arek Suroboyo kabeh.

Pada 29 Oktober pertempuran itu masih terus terjadi. Inggris akhirnya mendatangkan presiden Soekarno dan wakil presiden Mohammad Hatta utk mendamaikan. 35. Pada 30 Oktober ditandatanganilah kesepakatan damai tidak saling tembak-menembak. Yang tanda tangan Gubernur Jatim juga. Sudah damai, tapi massa kampung tidak mau damai.

Pada 30 Oktober, akhirnya Brigadir Jenderal Mallaby digranat arek-arek Suroboyo. Mati mengenaskan di tangan pemuda Ansor. Ditembak, mobilnya digranat di Jembatan Merah. Sejarah kematian Mallaby ini tidak diakui oleh Inggris. Ada yang menyebut Mallaby mati dibunuh secara licik oleh Indonesia. Aneh, jenderal mati tp disembunyikan sebabnya karena malu.

Inggris marah betul. Masa negara kolonial kalah. Mereka malu & bingung. Perang sudah selesai, tapi pasukan Inggris kok diserang, jenderalnya dibunuh. Apa ini maksudnya? “Kalau sampai tanggal 9 Nopember jam 6 sore pembunuh Mallaby tidak diserahkan, dan tanggal itu orang-orang surabaya masih yang memegang bedil, meriam dst. tidak menyerahkan senjata kepada tentara Inggris, maka tanggal 10 Nopember jam 6 pagi Surabaya akan dibombardir lewat darat, laut, dan udara," begitu amuk jenderal tertinggi Inggris.

Datanglah tujuh kapal perang langsung ke Pelabuhan Tanjung Perak. Meriam Inggris sudah diarahkan ke Surabaya. Diturunkan pula meriam Howidser yang khusus untuk menghancurkan bangunan. Satu skuadron pesawat tempur dan pesawat pengebom juga siap dipakai. Surabaya kala itu memang mau dibakar habis karena Inggris marah kepada pembunuh Mallaby.

Pada 9 November jam setengah empat sore, Mbah Hasyim yang baru pulang usai Konferensi Masyumi di Jogja sebagai ketua, mendengar kabar arek-arek Suroboyo diancam Inggris. “Fardhu a'in bagi semua umat Islam yang berada dalam jarak 94 kilo dari Kota Surabaya untuk membela Kota Surabaya”. 94 kilo itu- jarak dibolehkannya solat qoshor.

Wilayah Sidoarjo, Tulungagung, Trenggalek,Kediri,n wilayah Mataraman, Mojokerto, Malang, Pasuruan, Jombang datang semua karena dalam jarak radius 94 kilo. Dari Kediri, Lirboyo ini datang dipimpin Kyai Mahrus. Seruan Mbah Hasyim langsung disambut luar biasa. Bahkan Cirebon yang lebih dari 500 kilo datang- ke Surabaya ikut seruan jihad PBNU.

Anak-anak kecil bahkan orang-orang dari lintas agama juga ikut perang. Orang Konghucu, Kristen, dan Budha semua ikut jihad. Selain Mallaby, pertempuran di Surabaya Brigadir jendral: Loder Saimen. Luar biasa pengorbanan arek-arek Surabaya, para Kyai, dan santri. Tapi lihat, apa yg dilakukan pemerintah di kemudian hari kepada para Kyai ini? Dimanipulasi.

Demikian kultweet #dutaislamcom dari KH. Agus Sunyoto saat 
menghadiri bedah buku "Fatwa dan Resolusi Jihad" di Pondok Lirboyo 3 November 2017.

Jumat, 18 Oktober 2019

Survey Menentukan Sekretariatan NU


Telah dilaksanakan Survey menentukan tempat sekretariatan NU Medokan Ayu, dengan hasil laporan :

Tim Survey :
  1. Bp. H. Ainul Yaqin (Ketua Tanfidz)
  2. Bp. Dzikri Syeban (Wakil Ketua)
  3. Bp. Onny Fahamsyah (Sekretaris)
Waktu : 08.00 - 09.30

Tempat yang di Survey :
Pertama : Gedung BLC/Kelurahan Lama
Hasil Pengamatan :


  1. Aset tersebut milik pemkot Surabaya, sehingga perijinan secara birokrasi akan lebih panjang.
  2. Pagarnya selalu terkunci
  3. Banyak sampah dedaunan, 
  4. Bila berhome-base disini, tapi tidak aktif ikut menjaga kebersihan maka bisa menjadi fitnah.
  5. Secara umum : kurang layak menjadi sekretariatan, tapi untuk acara pelatihan maupun seminar bisa dilaksanakan di tempat ini.

Kedua : TPQ Al-Ikhlas/ TK. Imaduddin
Alamat : Jl. Masjid no. 123
Hasil Pengamatan :



  1. Aset tersebut milik masjid Imadudin
  2. Lantai dua keliatannya tidak digunakan,  tetapi atap plafonnya jebol sehingga perlu biaya perbaikan seandainya menempatinya
  3. Karena masih aktif dipakai TK dan TPQ, maka riskan terhadap fitnah kebersihan dan keamanan bila terjadi kehilangan
  4. Secara umum : kurang sesuai bila menjadi sekretariatan.

Ketiga : Di bawah Menara Masjid Al-Ichsan
Alamat : Wonoayu 30A, RT I/ RW III
Hasil pengamatan :



  1. Ukuran areal kurang lebih 4x4 meter
  2. Berada di areal masjid, sehingga mendukung dalam aktivitas beribadah jamaah sekaligus memakmurkan masjid
  3. Dari gambaran umum, sangat representatif sebagai kesekretariatan
  4. Sudah berkoordinasi dengan ketakmiran masjid, untuk selanjutnya dimusyawarahkan kepada H. Waris selaku Rais Syuriah Pengurus Ranting NU Medokan Ayu.


Koordinasi Takmir dengan Tanfidz

Kamis, 17 Oktober 2019

MENGAPA BER-NU ?



Ahlussunah wal Jama'ah adalah faham keislaman yang dianut mayoritas muslim dunia, termasuk masyarakat Nusantara.

Dalam organisasi, mayoritas mengikuti Nahdlatul Ulama yang didirikan Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, dan para alim lainnya.

Di dalam Nahdlatul Ulama, untuk berjama'ah dalam amaliyah, fikrah, harakah, dan ukhuwah.

NU tidak hanya mengurusi gerakan (harakah), tapi juga :

  1. Amaliyah Aswaja, seperti tahlilan, istighatsah, ziarah kubur, maulid, qunut, muamalah, munakahah, dll. Yang fardhu, sudah pasti, yang sunnah juga NU lakoni. Seperti shalat gerhana, shalat tasbih, dsb.
  2. Fikrah Aswaja, seperti pesantren, madrasah, pengajian, majlis ta'lim, dakwah media dan mimbar, kajian ilmiyah bahtsul matsail, dll. Termasuk dalam fikrah, adalah akidah aswaja.
  3. Ukhuwah Aswaja, yaitu insaniyah, wathaniyah, dan Islamiyah. NU mengurusi perdamaian masyarakat lokal dan dunia.
Muqabalah (pembanding) karakteristik ini dalam beberapa ormas lain. Walaupun ada beberapa ormas yang hanya menonjol dalam urusan harakah, atau politik.

Di NU, menemukan :
Amaliyah : 25%
Fikrah       : 25%
Harakah   : 25%
Ukhuwah  : 25%

Jadi NU 100%

Ber-NU, sebagai jama'ah sekaligus jam'iyyah untuk diri dan keluarga.

Berjamaah, karena Nabi Muhammad Shallallahu 'alaih wasallam mewajibkan untuk bersama jama'ah :

عليكم بجماعة المسلمين وامامهم

Kenapa berjama'ahnya di NU ?

Karena nilai-nilai NU, sejalan dengan prinsip Islam rahmatan lil alamin.

NU yang berpegang teguh pada Al-Qur'an, Hadits, Ijma, dan Qiyas.

Tidak ghuluw (berlebihan/ekstrim), tetapi memiliki karakter :
1. Tawassuthiyyah (moderat),
2. Tasamuhiyah (toleran),
3. Tawaazuniyah (keseimbangan),
4. I'tidaliyah (idealis),
5. Istiqamah (konsisten),
6. Ishlahiyyah (reformatif),
7. Tathowwuriyah (dinamis),
8. Manhajiyah (pola pikir metodologis),
9. Amar ma'ruf nahi munkar

Tanpa jama'ah, ibarat debu di semesta yang luas.

Tanpa jam'iyyah (organisasi), ibarat sepotong rumput liar yang tidak terurus.

Ber-NU, memilih jalur NU, bersanad melalui guru-guru Aswaja. Ada sandaran, ada rujukan, dan ada pertanggung jawabannya.

NU yang lahir pada 31 Januari 1926, memiliki tanggung jawab besar untuk mengawal kehidupan beragama dan bernegara dalam bingkai NKRI.

Dalam Bahtsul Matsail Muktamar NU tahun 1936 di Banjarmasin, jauh sebelum Indonesia merdeka disebutkan bahwa Indonesia adalah negeri atau wilayah Islam, mengambil petunjuk negara yang dibangun oleh Rasulullah di Madinah, yang berdasar kesepakatan kaum muslimin​ dan penduduk non-muslim.

Dengan Piagam Madinah, tidak mengedepankan Islam semata tetapi persatuan dan kesatuan, sebagaimana Firman Allah

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam [Al-Anbiyâ’/21:107].

Semoga kita diakui murid KH. Hasyim Asy'ari, bersambung sanad juga kepada KH. Kholil Bangkalan, Syekh Nawawi Al-Bantani, para Imam Ahlussunnah wal Jama'ah, dan dikumpulkan bersama para ulama salafus shaleh yang mumpuni dalam duniawi dan ukhrawi.

Aamiin ya robbal alamiin..

الحق بلا نظام يغلبه الباطل بالنظام

Kebenaran tanpa struktur, akan dikalahkan oleh kebathilan yang terstruktur.

Ada Empat ciri utama prinsip NU. Bila empat ciri khas ini tidak ada dalam seorang warga NU, maka sesungguhnya ia telah menyimpang dari jalannya.

Pertama, at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, tidak ekstrim kiri dan tidak ekstrim kanan. Meminjam istilahnya KH Makruf Amin: "Laysa Liberaliyan wa Lâ Konservatiyan".

Kedua, at-tawazun atau seimbang dalam segala hal, terrmasuk dalam penggunaan dalil 'aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.

Ketiga, al-i'tidal atau tegak lurus. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Maidah)

Keempat; tasamuh atau toleransi. Yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda.

Dalam tataran praktis, sebagaimana dijelaskan KH Ahmad Shiddiq bahwa prinsip-prinsip ini dapat terwujudkan dalam beberapa hal sebagai berikut: (Lihat Khitthah Nahdliyah, hal 40-44)

1. Akidah.
  • Keseimbangan dalam penggunaan dalil 'aqli dan dalil naqli.
  • Memurnikan akidah dari pengaruh luar Islam.
  • Tidak gampang menilai salah atau menjatuhkan vonis syirik, bid'ah apalagi kafir.

2. Syari'ah
  • Berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits dengan menggunanakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
  • Akal baru dapat digunakan pada masalah yang yang tidak ada nash yang jelas (sharih/qotht'i).
  • Dapat menerima perbedaan pendapat dalam menilai masalah yang memiliki dalil yang multi-interpretatif (zhanni).

3. Tashawwuf/ Akhlak
  • Tidak mencegah, bahkan menganjurkan usaha memperdalam penghayatan ajaran Islam, selama menggunakan cara-cara yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum Islam.
  • Mencegah sikap berlebihan (ghuluw) dalam menilai sesuatu.
  • Berpedoman kepada akhlak yang luhur. Misalnya sikap syaja’ah atau berani (antara penakut dan ngawur atau sembrono), sikap tawadhu' (antara sombong dan rendah diri) dan sikap dermawan (antara kikir dan boros).

4. Pergaulan antar golongan
  • Mengakui watak manusia yang senang berkumpul dan berkelompok berdasarkan unsur pengikatnya masing-masing.
  • Mengembangkan toleransi kepada kelompok yang berbeda.
  • Pergaulan antar golongan harus atas dasar saling menghormati dan menghargai.
  • Bersikap tegas kepada pihak yang nyata-nyata memusuhi agama Islam.

5. Kehidupan bernegara
  • NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) harus tetap dipertahankan karena merupakan kesepakatan seluruh komponen bangsa. 
  • Selalu taat dan patuh kepada pemerintah dengan semua aturan yang dibuat, selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.
  • Tidak melakukan pemberontakan atau kudeta kepada pemerintah yang sah.
  • Kalau terjadi penyimpangan dalam pemerintahan, maka mengingatkannya dengan cara yang baik.

6. Kebudayaan
  • Kebudayaan harus ditempatkan pada kedudukan yang wajar. Dinilai dan diukur dengan norma dan hukum agama.
  • Kebudayaan yang baik dan tidak bertentangan dengan agama dapat diterima, dari manapun datangnya. Sedangkan yang tidak baik harus ditinggal.
  • Dapat menerima budaya baru yang baik dan melestarikan budaya lama yang masih relevan (al-muhafazhatu 'alal qadimis shalih wal akhdu bil jadidil ashlah).

7. Dakwah
  • Berdakwah bukan untuk menghukum atau memberikan vonis bersalah, tetapi mengajak masyarakat menuju jalan yang diridhai Allah SWT.
  • Berdakwah dilakukan dengan tujuan dan sasaran yang jelas.
  • Dakwah dilakukan dengan petunjuk yang baik dan keterangan yang jelas, disesuaikan dg kondisi dan keadaan sasaran dakwah.

Semoga bermanfaat,
Berbagi untuk meng-NU-kan kultur, dan mengkulturkan NU.

#SatuAbadNU